Asbab An-Nuzul
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Alquran diturunkan adakalanya bersifat inspiratif atau tanpa adanya sebab yang mendahului (ibtida’i) dan adakalanya bersifat responsif atau ada sebab musababnya (asbabi) terlebih dahulu. Lantas apa itu Asbab An-Nuzul (Asbabun Nuzul)??
Ibnu Al-Mandzur dalam kitab Lisanul Arab menyebut, secara etimologi kata asbab adalah bentuk plural dari kata sabab yang berarti sesuatu yang mengakibatkan pada suatu yang lain (cause). Atau dalam bahasa Arabnya disebut kullu syai-in yutawasshalu bihi ila ghairihi. Sedangkan kata nuzul berarti menempati (hulul). Orang Arab mengistilahi seseorang yang singgah di suatu kaum dengan istilah nazil. Selain itu, kata nuzul juga menurutnya memiliki arti turun, seperti kata turun dalam kalimat nazala min fauqi ila asfal (turun dari atas ke bawah). Sehingga menurut beliau, nuzul atau nazala memiliki dua arti, yakni menempati dan turun.
Sedangkan secara terminologi, menurut Muhammad Abdul Adhim Az-Zarqani dalam kitabnya Manahil al-Irfan, asbabun nuzul merupakan suatu ayat yang diturunkan dengan berkenaan suatu kejadian atau peristiwa sebagai keterangan hukum pada hari kejadian. Kesemuanya dapat berhubungan dengan pertanyaan yang diajukan kepada Rasulullah dari sahabat, yang kemudian turunlah wahyu dari Allah sebagai penjelas sebuah peristiwa. Bahasa tegasnya adalah jawaban atas suatu peristiwa yang tengah terjadi.
Menurut Muhammad Quraish Shihab dalam buku Membumikan Al-Qur’an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat (1999) menjelaskan bahwa mayoritas ulama mengemukakan kaidah al-'ibrah bi 'umum al-lafzh la bi khushush al-sabab (patokan dalam memahami ayat adalah redaksinya yang bersifat umum, bukan khusus terhadap (pelaku) kasus yang menjadi sebab turunnya).
Seperti diketahui setiap asbab al-nuzul pasti mencakup: peristiwa, pelaku, dan waktu. Tidak mungkin benak pikiran akan mampu menggambarkan adanya suatu peristiwa yang tidak terjadi dalam kurun waktu tertentu dan tanpa pelaku. Sayangnya, selama ini pandangan menyangkut asbabun nuzul dan pemahaman ayat sering kali hanya menekankan kepada peristiwanya saja dan mengabaikan "waktu" terjadinya peristiwa tersebut.
Menurut Muhammad Abdul Azhim Al-Zarqaniy dalam kitab Manahil Al-'Irfan, Al-Halabiy, beliau mengungkapkan :
"Para penganut paham al-'ibrah bi khushush al-sabab, menekankan perlunya analogi (qiyas) untuk menarik makna dari ayat-ayat yang memiliki latar belakang asbabun nuzul itu, tetapi dengan catatan apabila qiyas tersebut memenuhi syarat-syaratnya."
Menurut Yusuf Kamil dalam kitab Al-'Ashriyun Mu'tazilat Al-Yawm, beliau mengatakan:
"Analogi yang dilakukan hendaknya tidak terbatas oleh analogi yang dipengaruhi oleh logika formal (al-manthiq, al-shuriy) yang selama ini banyak mempengaruhi para fuqaha' kita. Tetapi, analogi Yang lebih luas dari itu, yang meletakkan di pelupuk mata al-mashalih al-mursalah dan yang mengantar kepada kemudahan pemahaman agama, sebagaimana halnya pada masa Rasul dan para sahabat."
Komentar
Posting Komentar